Categories
Seni Sastra

Fakta Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Besar

Dunia seni Tanah Air belum lama ini kembali berduka. Sastrawan senior yaitu Sapardi Djoko Damono menghembuskan (19/7) nafas terakhirnya yaitu pada Minggu (19/7) sekitar pukul 09.17 WIB. Kabar ini nantinya akan disampaikan oleh sejumlah tokoh melalui akun media sosial. Sang maestro meninggal dunia di Rumah Sakit Eka Hospital yang ada di BSD, Tangerang Selatan. Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai seorang akademisi sekaligus juga seorang sastrawan besar Indonesia.

Ia telah berhasil menghasilkan berbagai macam karya dan memperoleh banyak sekali penghargaan atas perannya di dalam bidang sastra dan aktif yaitu sejak tahun 1950 hingga sampai sekarang. Karyanya tidak hanya sajak dan juga berbagai macam puisis, melainkan juga berbagai esai dan juga berbagai cerita pendek. Sejumlah puisinya mendapatkan sebuah apresiasi luar biasa, bahkan diangkat ke dalam bentuk seni lainnya, seperti musikalisasi.

Fakta Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Besar

Sapardi lahir pada tahun 1940 yang artinya dirinya lahir pada saat Indonesia belum dalam keadaan merdeka. Maka dari itu saat masa kecil Sapardi jauh dari kata bahagia dan juga aman. Di usianya yang masih belia Sapardi kemudian harus memakan dengan bubur nasi seadanya buatan sang ibunda yaitu kali sehari. Padahal anak usia 2-3 tahun setidaknya memerlukan kalori yaitu sebesar 1000-1400 per harinya.

Namun bubur nasi yang diketahui hanya memiliki 72 kalori, artinya Sapardi tidak masuk ke dalam golongan anak sehat secara medis. Puisi berjudul Hujan Bulan Juni pada (1994) merupakan salah satu dari mahakaryanya yang begitu terkenal. Sapardi diketahui meninggal dunia karena komplikasi sebuah penyakit. Dirinya dimakamkan di Taman Pemakaman Giritama, Bogor. Berikut ini adalah beberapa fakta tentang Sapardi Djoko Damono yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.

1. Masa kecil

Sapardi Djoko Damono dirinya lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 dari pasangan Sadyoko dan juga Sapariah. Dirinya merupakan anak tertua dari dua bersaudara. Sapardi kemudian menempuh pendidikan di Solo hingga dirinya menginjak bangku SMA. Kemudian ia mengambil jurusan Sastra Inggris dan masuk ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelarnya yaitu pada 1964. Lulus dari UGM, ia melanjutkan pendidikan non gelar yaitu University of Hawaii.

2. Karir di bidang pendidikan

Selepas kuliah, Sapardi juga pernah menjadi seorang dosen tetap Ketua Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Malang Cabang Madiun pada tahun 1964-1968. Tahun 1973, Sapardi kemudian pindah dari Semarang ke Jakarta dan kemudian menjadi seorang direktur pelaksana dalam Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison.

Sejak tahun 1974, ia telah berhasil mengajar di Fakultas Sastra-Budaya Universitas Diponegoro. Sapardi juga pernah menjabat sebagai seorang dekan FIB UI periode 1995-1999 dan menjadi seorang guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia Jurusan Sastra Indonesia. Dirinya juga pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra di Universitas Indonesia tahun 1979-1982, lalu kemudian diangkat sebagai Pembantu Dekan I pada 1982-1996 dan pada akhirnya menjabat sebagai Dekan pada tahun 1996-1999 di fakultas dan universitas yang sama. Tahun 2005 Sapardi kemudian memasuki masa pensiun sebagai guru besar di Fakultas Ilmu Budaya.

3. Aktif di lembaga

Selain dirinya mengajar sebagai seorang dosen, Sapardi Djoko Damono juga sangat aktif di berbagai lembaga seni sastra. Ia juga pernah menjadi seorang Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia dalam redaksi majalah sastra Horison pada tahun (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin tahun (1975), anggota Dewan Kesenian, dan juga anggota Badan Pertimbangan Perbukuan di Balai Pustaka Jakarta.

Tahun 1986, Sapardi kemudian mendirikan sebuah organisasi profesi kesastraan di Indonesia dengan nama Himpunan Sarjana-Kesusastraan di Indonesia atau Hiski. Selama tiga periode, Sapardi juga berhasil terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat. Sapardi juga tercatat sebagai salah satu anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan juga merupakan anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV).

Tidak hanya aktif di dunia sastra Indonesia saja, Sapardi Djoko Damono juga sering menghadiri berbagai macam pertemuan internasional, seperti Translation Workshop dan juga Poetry International di Rotterdam, Belanda dan Seminar on Literature and Social Exchange in Asia yang diadakan di Australia National University Canberra.

4. Karya sastra

Di Dalam dunia sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono namanya mempunyai sebuah peran yang sangat penting. Sapardi masuk ke dalam kelompok pengarang angkatan 1870 an. Puisi Sapardi dikagumi karena banyak kesamaan dengan yang ada di dalam persajakan Barat.

Beberapa karyanya yang juga telah dibuat antara lain, Duka-Mu Abadi 1969, Perahu Kertas (1983),Sihir Hujan (1984), Mata Pisau (1974), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998). Serta Mata Jendela (2000), Ayat-ayat Api (2000), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003), kumpulan cerpen dengan judul Pengarang Telah Mati (2001), dan kumpulan sajak Kolam tahun (2009).

5. Penghargaan karya

Atas berbagai perannya dan karya-karyanya di dunia sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono pernah memperoleh sederet penghargaan dan juga hadiah dalam bidang sastra. Diantaranya seperti puisi berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak tahun (1963), Dewan Kesenian Jakarta atas bukunya yang berjudul Perahu Kertas (1984), Puisi-Puisi Putera II untuk bukunya yaitu Sihir Hujan dari Malaysia (1983), Mendapat Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990), SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand (1986 dan juga masih banyak lagi.

6. Mengembangkan Segala Kelebihan

Sapardi balita juga mulai tinggal bersama kakeknya yang merupakan abdi dalem dari Keraton Kasunan. Kakaknya juga pandai membuat dan memainkan berbagai macam wayang kulit. Namun Saat usia Sapardi 3 tahun, ayah dan ibunya menyewa sebuah rumah di kampung Dhawung dan mengikutsertakan Sapardi untuk kemudian pindah juga. Sapardi menempuh pendidikan awalnya di Sekolah Rakyat Kasatrian yang berisikan anak laki-laki.

Pendidikan seni yang ia dapat adalah menabuh gamelan dan juga menari jawa. Bakat seni yang tertanam dari sang kakek kemudian mengalir ke raga Sapardi yang gemar dengan dunia seni budaya. Setelah itu sapardi kemudian meneruskan pendidikannya di SMP Negeri 2 Surakarta, disana mulailah Sapardi menemukan jati dirinya bahwa sastra adalah dunia yang nantinya harus dituju.

Pada masa itu juga, Sapardi aktif mengirimkan ceritanya ke majalah anak berbahasa jawa dan pada saat itu tulisannya sempat ditolak semata-mata karena tulisannya di anggap tidak masuk akal, padahal Sapardi saat itu menulis sebuah kisah nonfiksi. Dari situlah sapardi kemudian mulai berpikir untuk menulis sebuah hal berbau fiksi.

Pada tahun 1955 Sapardi lulus dari bangku SMP dan kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Surakarta, Sapardi aktif menulis puisi pada saat dirinya duduk di bangku kelas 2 SMA, dan puisinya dipublikasikan di majalah-majalah budaya sastra dan dari situlah awal dirinya menjadi seorang sastrawan hebat.

Demikian itulah beberapa fakta tentang Sapardi Djoko Damono seorang sastrawan besar Indonesia. Walaupun kini Sapardi Djoko Damono telah tiada, namun karya-karya indahnya masih sering dilantunkan oleh banyak orang. Semoga kisah dari Sapardi Djoko Damono ini dapat menginspirasi banyak anak muda Indonesia yang tertarik di bidang sastra.

Categories
Seni Sastra

Jenis Buku yang Paling Diburu Milenial

Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa pada tanggal 17 Mei adalah sebagai hari Buku Nasional sejak tahun 2002 lalu. Penetapan ini dilakukan untuk dapat meningkatkan minat masyarakat Indonesia akan pentingnya membaca buku bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Dengan membaca maka nantinya akan banyak pengetahuan yang juga akan didapatkan dan juga pemikiran yang nantinya menjadi lebih luas. Dengan sbobet login tujuan ini pula akan banyak orang tua yang sejak kecil selalu mengajari anaknya untuk membaca. Selain itu anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang selalu ditekankan untuk rajin belajar dan membaca.

Jenis Buku yang Paling Diburu Milenial

Akan tetapi saat ini, tahukah anda jika minat baca dari kaum milenial sudah semakin menurun di Indonesia. Hal ini terlihat dari penjualan buku yang ada di toko-toko buku yang sepi-sepi saja. Bahkan pada saat ada diskon buku juga tidak dapat menarik minat pembaca yang cukup banyak di Indonesia.

Jenis buku juga terbagi ke dalam beberapa jenis yang sesuai dengan usia masing-masing dari pembaca. Seperti orang tua yang akan lebih menyukai sebuah buku literasi dan anak anak kecil yang umumnya lebih menyukai buku-buku gambar ataupun komik. Lalu bagaimanakah dengan kaum milenial ? Dari beberapa penelusuran setidaknya ada 5 buku yang juga disenangi oleh kaum millenials.

Novel

Sepertinya hampir semua kaum milenial menyukai novel sebagai sebuah bahan bacaannya disaat mengisi waktu luang. Dari 3 remaja yang telah temui, semuanya yang mengatakan mereka sangat menyukai novel dibandingkan dengan beberapa buku pelajaran maupun buku literasi. Yang membedakan hanya dari jenis atau genre novel yang dibaca.

Ada yang menyukai genre romantis, horor dan juga fiksi seperti halnya Novel seri Harry Potter dan juga Novel seri Twilight.
Tapi banyak juga milenial yang menyukai novel humor yang hingga seperti saat ini yang masih banyak mengeluarkan buku barunya. Bahkan penulis novel humor seperti halnya Raditya Dika mempunyai banyak penggemar karena karyanya sendiri yang mampu mengocok perut.

Komik

Kalau yang satu itu adalah sebuah bacaan wajib bagi kaum milenial. Hampir semua milenial pastinya sangat gemar membaca komik. Selain karena ceritanya yang sesuai dengan anak muda saat ini, bahasa komik juga sudah lebih ringan. Bahkan dairi kecil sudah banyak yang rajin membeli dan juga membaca komik. Apalagi komik yang memiliki seri yang panjang seperti conan. Hingga saat ini komik terus berkembang, namun yang tetap menjadi favorit masih cerita kartun dan misteri seperti halnya detektif conan.

Buku Sastra

Tak melulu sebuah buku santai dengan isi cerita romantis dan humoris. Ternyata banyak sekarang ini kaum milenial yang menyukai berbagai buku sastra. Menurut survei yang dilakukan dari beberapa anak muda salah satunya memilih untuk membaca buku sastra dibandingkan membaca novel dan komik.

Buku sastra yang juga dinilai mampu memberikan berbagai macam manfaat, seperti memperkaya diksi dalam bahasa, tetapi juga bisa belajar banyak hal seperti sejarah, budaya, seni, hingga politik. Hal tersebut dikarenakan sastra dapat mendorong pembaca untuk mengasah kreatifitas, memperkaya imajinasi pembaca, berpikiran kritis, memperluas pandangan, sekaligus juga berbudaya. Buku sastra yang sekarang ini paling diminati yaitu buku yang ditulis oleh penulis Dee Lestari yang karyanya terkenal dan mampu memikat banyak pembaca.

Buku Puisi

Buku puisi juga ternyata masih sangat disukai oleh para kaum milenial baik wanita maupun juga pria. Buku puisi juga dinilai bisa memberikan ketenangan pada saat membacanya, dan bagi pria bisa dijadikan sebagai sebuah bahan untuk mendekati sang gebetan.

Buku Masak

Pasti tidak ada yang menyangka jika buku memasak adalah buku yang ternyata banyak disukai oleh kaum milenial terutama untuk kaum perempuan. Kenapa? Karena kaum milenial saat ini sudah dalam usia beranjak dewasa sehingga banyak yang senang memasak. Menurut survey diketahui jika kamu milenial yang perempuan senang membaca buku memasak. Biasanya saat mendatangi toko-toko buku yang pertama yang akan dilihat adalah bagian dari buku masak. Ini menandakan bahwa buku masak di gemari oleh kaum milenial.

Kemampuan memahami sebuah literasi yang terasah khususnya bagi para generasi milenial kelak akan menghasilkan sebuah jejak digital yang bermanfaat. Hal penting dari membaca bagi kaum milenial juga seperti :

Dampak Sosial dari Literasi yang Buruk

Ketika ada seseorang yang memiliki sebuah kesulitan dalam membaca, maka nantinya akan terasa dampaknya tersebut di dalam kehidupan sosial. Misalnya saja terdapat seorang anak yang kesulitan membaca, maka biasanya mereka tidak akan percaya diri dan merasakan beberapa emosi seperti malu, takut dan juga merasa minder.

Contoh lainnya adalah, ketika terdapat siswa yang tidak pernah paham maka pentingnya sebuah literasi. Mereka yang nantinya yang kesulitan membaca akan merasa terkucil secara akademis, dan kemudian memilih untuk menjauh dari tanggung jawab sosial (contoh seperti : tidak nyaman atau tidak suka bergabung dengan sebuah komunitas atau perkumpulan yang ada di sekitarnya).

Mantan Presiden Asosiasi Literasi Internasional, Bernadette Dwyer dirinya berkata bahwa Literasi menembus banyak aspek kehidupan. Membentuk diri secara mendasar bagaimana cara untuk belajar, bekerja, dan juga berkehidupan sosial.

Literasi adalah sebuah sumber informasi pada saat pengambilan sebuah keputusan, pemberdayaan diri, juga keterlibatan di masyarakat. Karena sebuah komunikasi dan juga sebuah keterbatasan koneksi adalah dasar tentang siapa diri kita dan bagaimana kita tinggal bersama serta melakukan sebuah interaksi di dunia.

Beberapa kesulitan dan masalah yang juga terjadi yaitu adalah seseorang akan sulit memahami tentang hak-hak dirinya sendiri seperti halnya : menyuarakan sebuah pendapat politik, mencari kerja, membayar sebuah tagihan pajak, dan juga bahkan untuk mengamankan harta pribadinya tersebut.

Hal-hal yang memang terlihat kecil seperti menggunakan bentuk spiral yang semakin lama semakin membesar sehingga dampaknya tentu akan semakin terasa oleh generasi mendatang dan juga masyarakat sekitar. Buta huruf nantinya akan sangat mempengaruhi peluang individu untuk berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat demokratis.

Dampak Multigenerasi

Hubungan antara pengasuhan orang tua yang ada di dalam bidang hal pendidikan dan literasi juga sudah banyak dijadikan sebuah penelitian. Salah satunya adalah sebuah riset dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat yang menemukan bahwa, anak-anak yang membaca minimal tiga kali per minggu memiliki sebuah kemungkinan hampir dua kali lipat untuk mendapat sebuah nilai 25% teratas dibanding kan dengan anak yang membaca kurang dalam tiga kali seminggu.

Demikian itulah beberapa jenis karya sastra yang paling diminati oleh kaum milenial yang ada saat ini. Beberapa karya sastra juga dapat meningkatkan minat milenial. Tentunya kita sebagai milenial harus mempunyai semangat untuk membaca.

Categories
Seni Sastra

Seniman & Sastrawan Muda Generasi Milenial

Mungkin kamu sudah sangat familiar sekali dengan nama Sapardi Djoko Damono, Pramoedya Ananta, Chairil Anwar, hingga dengan Ahmad Tohari. Ya, mereka semua adalah beberapa sastrawan Indonesia yang terkenal dengan keindahan karya yang seakan tidak lekang oleh waktu. Dan tidak kalah elok dari gubahan para sastrawan dunia yang, seperti halnya Ernest Hemingway, Victor Hugo, Charles Dickens, dan juga Frans Kafka. Sebuah karya-karya sastra yang begitu menawan untuk di baca tentunya sayang jika harus dibiarkan untuk luntur di tengah maraknya bacaan jenis bacaan lain. Oleh sebab itu, kesusastraan butuh dari para penerus yang berasal dari generasi muda.

Seniman & Sastrawan Muda Generasi Milenial

Untuk para pecinta karya sastra sekarang pun juga biasanya masih mengidolakan berbagai karya sastra dari para senior dan juga tokoh sastrawan Indonesia tersebut. Mulai dari mencari tau tentang biografi Chairil Anwar sampai dengan mengulas berbagai macam karya sastra dari para sastrawan Indonesia yang terkenal tersebut yang bahkan juga sudah terkenal di berbagai belahan dunia.

Tapi, rasanya sekarang sudah waktunya untuk move on dari beberapa generasi sastrawan terdahulu. Dan mulai melirik karya dari berbagai tokoh dan sastrawan Indonesia dari generasi muda. Karya sastra mereka yang juga ternyata tidak kalah hebat dari para penyair Indonesia terdahulu. Berikut ini akan dibahas beberapa sastrawan muda Indonesia dari generasi milenial yang siap mewarnai dunia sastra.

1. M. Aan Mansyur

Penggalan dari puisi yang dilafalkan oleh Rangga dalam film AADC 2. Bersama dengan puisi-puisi Rangga yang lain sesungguhnya sudah tersemat dalam sebuah antologi yang diubah oleh M. Aan Mansyur, yakni adalah Tak Ada New York Hari Ini. Sebelum menjelma menjadi seorang penyair, Aan Mansyur yang dahulu bercita-cita menjadi seorang pelukis.

Ia kemudian memutuskan untuk mulai menulis sejak dirinya terbuai oleh kumpulan sajak dari Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Simfoni Dua. Selain Tak Ada New York Hari Ini (2016), penyair yang merupakan kelahiran 14 Januari 1982 itu juga telah melahirkan beberapa karya sastra kondang yang lainnya. Seperti halnya Melihat Api Bekerja (2015) dan Kukila (2012).

2. Dea Anugrah

Bermula dari obrolannya dengan guru bahasa Indonesia ketika masih SMA, Dea Anugrah sudah terpikat dengan dunia penulisan. Juga oleh bacan-bacaan di perpustakaan sekolahnya, pria yang berasal dari Pangkalpinang kelahiran 27 Juni ini pun sudah teracuni untuk dapat menulis. Sambil menyelami dunia tulis menulis, Dea Anugrah menamatkan pendidikan filsafatnya di Universitas Gadjah Mada. Dan menginjak pada usianya 27 tahun, berbagai karyanya sudah melanglang buana, baik di media cetak maupun yang terdapat di media online.
Salah satu dari karyanya yang sudah sangat tersohor milik dari Dea Anugrah adalah sebuah kumpulan cerpen-nya yang berjudul sebuah Bakat Menggonggong. Di samping dirinya menulis sebuah karya sendiri, belum lama ini Dea Anugrah menerjemahkan juga kumpulan cerpen What We Talk About When We Talk About Love karya dari Raymond Carver.

3. Norman Erikson Pasaribu

Norman Erikson Pasaribu salah seorang yang mendulang banyak pujian berkat kepiawaiannya yang berada di dalam bidang sastra oleh salah satu pujangga senior Tanah Air, yakni Sapardi Djoko Damono. Ia pun turut dianugerahi sebuah titel Sastrawan Muda Asia Tenggara oleh sebuah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang didapatnya pada tahun 2017.

Hingga kini, pria yang merupakan kelahiran Jakarta tahun 1990 tersebut sudah berhasil memiliki dua karya yang telah berhasil dibukukan. Buku pertamanya yang berupa sebuah kumpulan cerita yang diberi judul Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (2014). Lalu diikuti oleh buku miliknya yaitu kumpulan puisinya berjudul Sergius Mencari Bacchus (2016) yang berhasil memboyongnya menjadi juara pertama dalam sebuah Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ yang dilaksanakan pada tahun 2015 lalu.

4. Adimas Immanuel

Empat Cangkir Kenangan (2012) merupakan sebuah hasil duet dari Adimas Immanuel bersama dengan Bernard Batubara, Mohammad Irfan, dan Esha Tegar Putra. Antologi dari puisi itulah yang kemudian menjadi buku pertama dari pria yang merupakan asal Solo ini. Sejak saat itu, Adimas Immanuel aktif mengubah puisi. Puisi karya penyair penyair muda yang merupakan kelahiran tahun 1991 ini pun sudah hilir mudik di berbagai media, salah satunya yaitu adalah Kompas.

Ia pun yang kemudian kembali meluncurkan puisinya yang lain, seperti pelesir Mimpi pada 2013 dan juga Di Hadapan Rahasia 2016. Sayapnya di bidang sastra terpusat dalam hal puisi menjadi sebuah hal yang sudah semakin berkembang. Nyatanya, Adimas Immanuel pernah diundang untuk dapat menghadiri ASEAN Literary Festival dan juga Ubud Writers and Readers Festival yang dilakukan yaitu pada tahun 2015, serta Melbourne Emerging Writers pada Festival 2016.

5. Okky Puspa Madasari

Pada usia 28 tahun, karya dari Okky Puspa Madasari yang saat itu berjudul Maryam berhasil memangankian Kusala Sastra Khatulistiwa 2012. Ia pun yang berhasil dinobatkan sebagai seorang penulis termuda yang memperoleh sebuah penghargaan bergengsi tersebut.

Karya dari wanita yang merupakan kelahiran Magetan, 30 Oktober 1984 itu tak lekang oleh zaman dan sampai sekarang ini masih terus populer di kalangan para penikmat sastra. Bahkan beberapa bukunya yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris seperti Entrok (The Years of the Voiceless), Pasung Jiwa (Bound), dan juga Maryam (The Outcast).

Tulisan lain yang juga dibuat oleh Okky Puspa Madasari yang telah dibukukan di antaranya, yaitu Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, Kerumunan Terakhir, 86 dan juga Mata di Tanah Melus. Hampir setiap karyanya pasti akan mengandung kritik sosial, untuk berbagai pihak terkait cerita, yang tentunya penuh dengan makna yang mendalam.

6. Sabda Armandio

Sabda Armandio sudah mulai gemar membaca secara rutin sejak dirinya masih bersekolah TK. Untuk soal menulis, ia memulainya dengan mencoba menyusun novel saat dirinya sudah berada di bangku SMA.

Sabda Armandio yang saat itu dirinya merasa terpanggil oleh pengaruh bacaan dari beberapa tokoh yang saat itu ia kaguminya. Seperti halnya Chairil Anwar hingga juga Albert Camus yang merupakan seorang (filsuf asal Perancis) dan Arthur Schopenhauer seorang (filsuf asal Jerman).

Pada tahun 2015, akhirnya pria yang juga akrab disapa dengan nama Dio ini menerbitkan sebuah novel pertamanya yang saat itu berjudul Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Diiringi juga oleh buku yang lainnya yang diterbitkan yaitu pada tahun 2017, yakni dengan judul 24 Jam Bersama Gaspar.

Tulisannya yang tidak begitu berat namun mudah untuk dipahami, dan juga sangat menarik perhatian para pembaca. Kelugasan dalam menulis ini pula yang kemudian mengantarkan Dio dalam meraih sebuah gelar untuk pemenang unggulan dalam sebuah Sayembara Penulisan Novel DKJ 2016.

Demikian itulah beberapa seniman dan sastrawan yang berasal dari Generasi Milenial. Sekarang ini banyak para seniman dan sastrawan muda yang bermunculan dengan segudang bakat yang mereka miliki. Kita sebagai orang Indonesia, tentunya harus bangga atas banyakan karya dari sastrawan milenial tersebut yang sudah diakui oleh dunia. Semoga artikel ini juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak anak muda lainnya.

 

Categories
Seni Sastra

Novel Milik Sastrawan Indonesia Peraih Penghargaan Internasional

Dikutip dari laman berita online Viva.co berdasarkan dengan studi “Most Littered Nation In the World” yang kemudian dilakukan oleh Central Connecticut State University yaitu pada tahun 2016 lalu, di ketahui jika minat baca dari masyarakat Indonesia yang berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang ada. Sehingga bisa dibayangkan betapa masih minimnya tentang minat baca yang ada di dalam diri masyarakat Indonesia.

Novel Milik Sastrawan Indonesia Peraih Penghargaan 

Namun, meskipun tidak membaca masih tergolong sangat rendah, Indonesia ternyata tidak pernah kehabisan karya sastra yang berkualitas yang lahir dari buah pikiran anak bangsanya. Tak hanya itu saja dengan menampilkan cerita yang menarik, para sastrawan juga telah berhasil untuk dapat menarik perhatian dunia karena karyanya turut mendapat berbagai penghargaan Internasional. Siapa sajakah mereka, yang termasuk sastrawan terkenal di Indonesia? Tentunya anda bisa menyimak artikelnya di bawah ini.

 

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Bukunya yang sudah berhasil diterjemahkan ke dalam 34 bahasa ini adalah buku yang menceritakan tentang kehidupan Minke, yang merupakan seorang pemuda pribumi yang dahulu berkesempatan mendapat sebuah pendidikan di sekolah Belanda, dan juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu menjadi seorang penulis di sebuah surat kabar yang ada. Kehidupan Minke yang dimana mulai mengalami perubahan ketika dirinya pada saat itu jatuh cinta dengan gadis keturunan Belanda yang bernama Annelies.

Tak hanya dalam buku ini berkutat soal kisah percintaan dua anak remaja ini saja, Pramoedya yang juga turut memasukkan berbagai tokoh, seperti sosok Nyai Ontosoroh yang di dalam buku juga merupakan ibu dari Annelies. Dalam novel ini juga, para pembaca yang dimana bisa merasakan bagaimana cerita tentang Pramoedya yang mengangkat sosok Ontosoroh yang merupakan seorang feminis dalam kesan yang sangat elegan. Selain itu Pramoedya juga yang didalam buku turut menyisipkan sebuah kondisi masyarakat pribumi melalui sebuah pemikiran tokoh Minke.

Novel yang juga merupakan tetralogi seri pertama ini, pada saat itu merupakan novel yang dibuat oleh sang penulis pada saat dirinya telah menjadi tahan di Pulau Buru yaitu pada tahun 1973. Tidak hanya itu saja, buku ini menjadi sebuah karya terbaik. Bumi Manusia juga menjadi buku yang turut mengangkat mama Pramoedya sebagai seorang sastrawan yang paling berpengaruh di Indonesia dan juga berhasil meraih sederet penghargaan Internasional seperti halnya PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write Award, Ramon Magsaysay Award dan juga sederet dengan penghargaan lainnya.

Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Buku ini ditulis oleh Ahmad Tohari yaitu pada tahun 1982 Ronggeng Dukuh Paruk adalah buku yang menceritakan tentang kisah cinta Srintil, yang digambarkan seorang penari ronggeng dan Rasus tanaman Srintil sejak dirinya kecil yang berprofesi sebagai seorang tentara. Ronggeng Dukuh Paruk’ yang menemukan latar dari wilayah Dukuh Paruk, yang merupakan desa kecil pada saat itu sedang dirundung boleh kemiskinan, kelaparan dan juga kebodohan.

Selain itu dalam novel pemilihan latar waktu itu di tahun 60an membuat novel ini juga turu memasukan berbagai konflik yang tengah melanda negeri pada tahun tersebut. Pertama kali buku tersebut diterbitkan buku ini hadir di dalam 3 judul yaitu Catatan Buat Emak, Dini Hari, Jantera Bianglala dan Lintang Kemukus. Namun pada tahun 2003, pihak penerbit yang kemudian telah menghadirkannya di dalam satu buah novel yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

Novel yang berjumlah 379 halaman ini yang tidak hanya mendapat penilaian yang sangat positif dari para pembaca di tanah air. Di mancanegara, Ahmad Tohari yang juga mendapat sebuah penghargaan S.E.A. Write Award (Southeast Asian Writers Award) yang didapatkan di tahun 1995. Dan novel Ronggeng Dukuh Paruk ini yang juga sudah diterjemahkan ke dalam 4 bahasa lainnya yaitu seperti Jepang, Jerman, Belanda dan juga Inggris.

Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

Novel romansa yang berjumlah 135 halaman ini adalah novel yang menceritakan sebuah kisah tentang cinta antara Sarwono dan juga Pingkan, yang diceritakan merupakan dua orang dosen yang mengajar di salah satu universitas di Jepang. Kisah cinta yang ada di antara keduanya berjalan tidak mulus, karena Sarwono dan juga Pingkan yang memiliki perbedaan keyakinan yang dimana hal ini pada akhirnya membuat keduanya sulit untuk dapat bersatu.

Belum lagi kehadiran Katsuo yang merupakan seorang dosen yang juga memiliki kedekatan dengan Pingkan. Di dalam novel tidak hanya menghadirkan sebuah kisah cinta sederhana yang ada di antara dua sosok ini, namun di dalam buku setebal 135 halaman, dimana nantinya Anda akan menemukan 95 puisi yang ada dengan kalimat yang begitu syahdu dan mengalun.

Sang penulis, yaitu Sapardi Djoko Damono yang berhasil meraih penghargaan Anugerah Buku yaitu dalam ajang ASEAN 2018 di Kuala lumpur, Malaysia, untuk dua karyanya, yang berjudul ‘Hujan di Bulan Juni’ dan juga ‘Yang Fana Adalah Waktu’. Novel ‘Hujan Bulan Juni’ buku ini yang merupakan novel pertama yang ada dari seri trilogi yang merupakan novel yang mengisahkan percintaan antara Sarwono dan juga Pingkan. 

Laskar Pelangi – Andrea Hirata

Bercerita tentang sebuah kehidupan dari 10 anak yang berasal dari keluarga miskin yang kemudian bersekolah di sekolah Muhammadiyah, berlatar di daerah Belitung. Meskipun penuh dengan keterbatasan, namun kesepuluh anak ini yang masih tetap memiliki semangat yang sangat tinggi untuk dapat bisa maju dan meraih kesuksesan di masa depan yang lebih baik. Menamakan ke 10 anak tersebut  sebagai Laskar Pelangi, di novel yang berjumlah 529 halaman ini, Anda nantinya akan disuguhi berbagai macam kisah dan juga masalah yang dialami dan ada tiap tokohnya yang ada dalam menghadapi berbagai macam keterbatasan hidup.

Laskar Pelangi sendiri yang merupakan buku pertama yang ada dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku ini sendiri selanjutnya adalah Sang Pemimpi, Edensor, dan jiga Maryamah Karpov. Hingga kini, ‘Laskar Pelangi’ yang sudah berhasil menjadi novel yang sudah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing dan juga sudah berhasil diterbitkan di lebih dari 130 negara oleh banyak penerbit terkemuka. Berkat Laskar Pelangi, juga sang penulis Andrea Hirata yang kemudian dapat meraih berbagai penghargaan internasional, yang ada di antaranya menjadi pemenang pertama untuk sebuah ajang New York Book Festival yang diselenggarakan tahun 2013 di Amerika Serikat, dan juga Buchaward 2013 yang ada di Jerman.

Itulah beberapa Karya sastra yang berhasil dibuat oleh sastrawan Indonesia yang sudah sangat terkenal. Tidak hanya terkenal di Indonesia saja, namun karya-karya para sastrawan tersebut sudah sangat terkenal di mancanegara dan bahkan mendapatkan banyak sekali penghargaan. Tentunya hal ini bisa menginspirasi banyak orang, khususnya generasi muda Indonesia untuk tetap berkarya dan menunjukan diri di mata dunia. Semoga dengan adanya artikel ini juga bisa menginspirasi anda. Terimakasih. 

 

Categories
Default

Sastra Populer Dari Jepang

Negara Jepang merupakan salah satu negara di kawasan Asia yang terkenal dari berbagai macam halnya. Mulai dari masyarakat, budaya, kebiasaan, hingga aneka jenis hiburan, seni  dan berbagai keunikan lainnya yang membuat pembahasan akan Jepang menjadi menarik bagi masyarakat negara lain. Telah banyak literatur membahas akan keunikan dari karya-karya yang berasal dari negara Jepang. Bidang sastra termasuk salah satu jenis yang populer dari negara Jepang. Terdapat banyak penulis terkenal yang telah berhasil menunjukkan karyanya di Jepang. Seperti apakah sastra yang populer di Jepang? Dan bagaimana sastra jenis itu menjadi populer di negeri sakura tersebut? Artikel ini akan membahas informasi lebih detail akan seputar sastra yang populer di Jepang.

1. The Changeling

Karya ini terkenal dibuat oleh seorang penulis sastra kontemporer terkenal dari Jepang yang diakui berbakat oleh negara tersebut. Ia pun berhasil memperoleh penghargaan Nobel Sastra atas kontribusinya yang diberikan di tahun 1994. Kenzaburo Oe merupakan penulis yang memiliki gaya penulisan nan unik. Keunikan gaya menulis ini dapat dilihat dari gaya penulisannya yang cukup dipengaruhi oleh sastra gaya Amerika-Perancis yang diminatinya. Literatur ini mengisahkan akan hubungan di antara dua seniman berbakat, yaitu Goro Hanawa dan Kogito Choko. Dimana sosok Goro Hanawa adalah seorang pembuat film terkenal, sedangkan Kogito Choko adalah seorang novelis berusia lanjut. Berbagai tanggapan dari pembaca literatur ini menyebutkan bahwa sosok Kogito Choko terlihat cukup menyampaikan akan diri seorang Kenzaburo Oe itu sendiri. Literatur bacaan ini dibangun menggunakan alur yang lamban namun terlihat konsisten, sehingga memberi kesan indah bagi segenap pembacanya.

Karya tulis Kenzaburo Oe yang terkenal dan berhasil mendapat nominasi ini ditulis menggunakan tata bahasa yang sederhana namun tidak menghilangkan kemewahan pada gaya tulisnya. Gaya tulis dari sosok Kenzaburo terkenal berkesan intelektual dalam strata literatur yang tinggi, namun novel ini masih tergolong menjadi bacaan yang mudah untuk dipahami. Berbagai topik mengenai pertanyaan akan makna dari kehidupan dan dan kematian banyak dibahas dalam perbincangan para tokoh di novel ini. Literatur ini juga dianggap memiliki makna yang indah karena membahas mengenai cara para tokohnya dalam memandang masa lalu dan masa depan sebagai harapan yang berusaha dijalankan melalui upaya merancang ketidakpastian tersebut. Meskipun sosok karakter yang digambarkan Kenzaburo Oe memiliki karakteristik orang Jepang dimana dalam novel ini dikisahkan melakukan aksi bunuh diri dari tokoh Goro Hanawa. Namun novel ini membahas akan upaya pemecahan masalah yang dilakukan oleh Kogito Choko dalam mencari rekaman yang dibuat oleh Goro Hanawa dan mencari tahu akan alasan tindakan tersebut dilakukan.

 

2. Colorless Tsukuru Tazaki -& His Years of Pilgrimage-

Karya tulis ini dibuat oleh Haruki Murakami di tahun 2013. Karya ini juga menjadi suatu penulisan yang dinilai baik hingga ke dunia luar. Berita New York Times memberikan nominasi karya tulis ini dinilai sebagai suatu karya terbaik yang pernah ada pada zaman tersebut. Haruki Murakami merupakan salah satu penulis yang terkenal berkat banyak buku yang diterbitkannya yang dinilai baik oleh banyak penghargaan sastra. Menjadi suatu keunikan dari kisah penulisan dari karya Haruki Murakami dalam berbagai buku yang telah ditulisnya. Segala bentuk hobi & pengalaman yang terjadi di masa lalunya diangkat menjadi suatu karakter yang diciptakan di dalam cerita. Kisah ini mengangkat akan permasalahan yang umum seperti layaknya banyak terjadi pada kisah manusia di masa kini, dimana masalah penerimaan di komunitas tertentu dan adanya perbedaan yang cukup signifikan masih seringkali dialami masyarakat modern.

 

Sosok Haruki Murakami itu sendiri terkenal sangat sering menggambarkan dengan jelas akan musik klasik Barat dalam banyak hasil karyanya. Dimana dalam novel yang satu ini, beliau mengisahkan akan kehidupan aneka manusia dengan nama yang mengacu arti dari suatu warna tertentu. Haruki Murakami memfokuskan pusat perhatiannya dalam menggambarkan sosok Tsukuru Tazaki yang hidup di lingkungan penuh warna meskipun namanya sendiri sama sekali tidak memiliki arti yang berkaitan dengan warna. Buku karya Haruki Murakami yang satu ini dinilai mengangkat kisah yang sederhana namun juga kompleks bagi pembacanya. Sehingga akibat dari topiknya ini, buku ini berhasil terjual hingga lebih dari satu juta kopi di minggu pertama kemunculannya di publik.

 

3. Kitchen

Novel ini ditulis oleh seorang penulis yang menggunakan nama pena Banana Yoshimoto di tahun 1988. Sosok penulis ini memiliki nama asli Mahoka Yoshimoto. Sosok Banana dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan cenderung menutup dirinya dari dunia luar. Namun ia banyak membagikan kisahnya ke dalam bentuk buku yang menjadi terkenal di dunia pecinta sastra dan literatur. Bahkan kisah buku berjudul Kitchen ini pun diangkat menjadi sebuah film oleh seorang direktur film dari Hongkong bernama Yim Ho. 

Cerita ini sendiri mengisahkan akan kehidupan kelam yang dirasakan oleh sosok protagonis muda bernama Yoshimoto. Kesedihannya dilukiskan pada sosok Yoshimoto saat harus kehilangan nenek yang begitu dikasihinya di saat ia harus pindah dan tinggal bersama ibunya, orang asing baginya yang merupakan sosok transgender yang tinggal serumah dengan seorang temannya. Novel yang mengangkat tema cinta, rasa keibuan serta tragedi ini dinilai memberi tema alur cerita yang cukup dalam. Peran yang kuat dalam penggambaran sosok karakter ciptaan Yoshimoto juga memberi dampak besar bagi para pembacanya. Berbagai pesan moral yang baik juga terselip dalam kisah di novel ini, seperti untuk tetap kuat menjalani hidup sekalipun dalam kondisi yang begitu sulit.

4. Audition

Novel ini dirancang oleh seorang penulis bernama Ryu Murakami, seorang novelis dan pembuat film yang fokus mengangkat unsur-unsur seputar ketegangan psikis karakternya. Novel yang diterbitkan di tahun 1997 ini dianggap sebagai jenis karya seni baru, dimana menjadi perpaduan di antara ketergantungan akan obat-obatan, aktivitas yang mengganggu dan berbagai permasalahan hingga memberi kondisi yang tertekan secara mental. Sosok Ryu Murakami itu sendiri cukup terkenal dari novel lainnya yang berjudul In The Miso Soup. 

 

5. Never Let Go

Novel ini dirancang oleh seorang penulis Inggris berdarah Jepang yang bernama Kazuo Ishiguro. Novel ini ditulisnya pada tahun 2005. Sosok Kazuo Ishiguro ini merupakan seorang penulis pria yang telah berhasil membuktikan kualitas karya tulisnya hingga mendapatkan satu penghargaan dari empat novel pertama yang ditulisnya. Keempat karya tulis tersebut juga menjadi novel yang sangat laris penjualannya di pasaran.

Novel berjudul Never Let Me Go merupakan sebuah novel fiksi ilmiah yang bertempat di sebuah asrama sekolah sekolah yang memberlakukan aturan yang ketat. Dimana para muridnya dipaksa untuk menaati segala ketetapan tersebut. Hingga berakhir di pertemuan tiga orang anak di asrama tersebut saat mereka sudah dewasa. Novel ini menggunakan gaya percakapan seperti layaknya dialog bernada santai dan lembut. Meskipun begitu alur ceritanya juga tetap menghasilkan banyak pertanyaan yang terbenak di pikiran pembacanya seputar aneka kegagalan yang terjadi dalam hidup manusia.

 

6. Byakuya Journey Under the Midnight Sun

Novel ini ditulis oleh seorang pria bernama Keigo Higashino di tahun 1999. Ia menulis novel pertama di saat masih menjabat menjadi seorang insinyur. Namun kemudian berhenti dari profesi sebelumnya saat menerima penghargaan Edogawa Rampo, lalu melanjutkan karirnya dalam menulis novel. Genre yang menjadi kualitasnya terletak pada jenis misteri. Novel misteri yang diciptakan Keigo Higashino membahas akan topik yang sulit, namun tetap dikemasnya dalam alur yang sederhana. Cerita yang dibuatnya berfokus pada narasi serta segi psikologis dari para tokohnya.

 

Sedangkan novel ini sendiri mengangkat kisah mengenai pembunuhan yang terjadi pada sebuah toko, yang tidak bisa diidentifikasikan pelakunya hingga periode yang panjang. Cerita ini akan menantang untuk dibaca dalam kondisi pikiran yang masih segar. Di bagian cover dari novel ini juga menyebutkan salah satu karya terbaik dari Keigo Higashino lainnya, dalam judul The Devotion Suspect X.

 

7. Woman on the Other Shore

Novel ini dibuat oleh Mitsuyo Kakuta di tahun 2004. Dimana sosok Mitsuyo Kakuta berhasil memperoleh penghargaan Kaien dalam kategori penulis baru dalam tempo waktu yang sangat cepat! Ia baru lulus dari universitas tempatnya belajar dengan menerbitkan karya tulis yang berjudul Blissful Pastime. Dan tidak lama kemudian penulis satu ini juga berhasil membuktikan kualitas karya tulisnya dengan memenangkan dua macam penghargaan yaitu di ajang Naoki dengan karya Woman on the Other Shore ini, serta karya Noma Literary New Face.

Novel Woman on the Other Shore ini unggul karena mengisahkan akan penegasan akan pentingnya hidup. Khususnya bagi kalangan wanita yang mengkhawatirkan akan dunia pernikahan, mengasuh anak hingga menjadi sosok mandiri yang harus bekerja untuk dapat bertahan hidup. Kisah menyentuh yang ditulis dalam novel ini membagikan keindahan melalui upaya membagi kisah hidup seseorang kepada dunia, dan terbukti memberikan pengaruh besar bagi banyak pembaca di negara Jepang itu sendiri. Demikianlah informasi akan beberapa artikel yang mendapat rating baik karya penulis Jepang. Adakah topik atau gaya penulisan yang menarik minatmu?