Categories
Seni Sastra

Seniman & Sastrawan Muda Generasi Milenial

Mungkin kamu sudah sangat familiar sekali dengan nama Sapardi Djoko Damono, Pramoedya Ananta, Chairil Anwar, hingga dengan Ahmad Tohari. Ya, mereka semua adalah beberapa sastrawan Indonesia yang terkenal dengan keindahan karya yang seakan tidak lekang oleh waktu. Dan tidak kalah elok dari gubahan para sastrawan dunia yang, seperti halnya Ernest Hemingway, Victor Hugo, Charles Dickens, dan juga Frans Kafka. Sebuah karya-karya sastra yang begitu menawan untuk di baca tentunya sayang jika harus dibiarkan untuk luntur di tengah maraknya bacaan jenis bacaan lain. Oleh sebab itu, kesusastraan butuh dari para penerus yang berasal dari generasi muda.

Seniman & Sastrawan Muda Generasi Milenial

Untuk para pecinta karya sastra sekarang pun juga biasanya masih mengidolakan berbagai karya sastra dari para senior dan juga tokoh sastrawan Indonesia tersebut. Mulai dari mencari tau tentang biografi Chairil Anwar sampai dengan mengulas berbagai macam karya sastra dari para sastrawan Indonesia yang terkenal tersebut yang bahkan juga sudah terkenal di berbagai belahan dunia.

Tapi, rasanya sekarang sudah waktunya untuk move on dari beberapa generasi sastrawan terdahulu. Dan mulai melirik karya dari berbagai tokoh dan sastrawan Indonesia dari generasi muda. Karya sastra mereka yang juga ternyata tidak kalah hebat dari para penyair Indonesia terdahulu. Berikut ini akan dibahas beberapa sastrawan muda Indonesia dari generasi milenial yang siap mewarnai dunia sastra.

1. M. Aan Mansyur

Penggalan dari puisi yang dilafalkan oleh Rangga dalam film AADC 2. Bersama dengan puisi-puisi Rangga yang lain sesungguhnya sudah tersemat dalam sebuah antologi yang diubah oleh M. Aan Mansyur, yakni adalah Tak Ada New York Hari Ini. Sebelum menjelma menjadi seorang penyair, Aan Mansyur yang dahulu bercita-cita menjadi seorang pelukis.

Ia kemudian memutuskan untuk mulai menulis sejak dirinya terbuai oleh kumpulan sajak dari Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Simfoni Dua. Selain Tak Ada New York Hari Ini (2016), penyair yang merupakan kelahiran 14 Januari 1982 itu juga telah melahirkan beberapa karya sastra kondang yang lainnya. Seperti halnya Melihat Api Bekerja (2015) dan Kukila (2012).

2. Dea Anugrah

Bermula dari obrolannya dengan guru bahasa Indonesia ketika masih SMA, Dea Anugrah sudah terpikat dengan dunia penulisan. Juga oleh bacan-bacaan di perpustakaan sekolahnya, pria yang berasal dari Pangkalpinang kelahiran 27 Juni ini pun sudah teracuni untuk dapat menulis. Sambil menyelami dunia tulis menulis, Dea Anugrah menamatkan pendidikan filsafatnya di Universitas Gadjah Mada. Dan menginjak pada usianya 27 tahun, berbagai karyanya sudah melanglang buana, baik di media cetak maupun yang terdapat di media online.
Salah satu dari karyanya yang sudah sangat tersohor milik dari Dea Anugrah adalah sebuah kumpulan cerpen-nya yang berjudul sebuah Bakat Menggonggong. Di samping dirinya menulis sebuah karya sendiri, belum lama ini Dea Anugrah menerjemahkan juga kumpulan cerpen What We Talk About When We Talk About Love karya dari Raymond Carver.

3. Norman Erikson Pasaribu

Norman Erikson Pasaribu salah seorang yang mendulang banyak pujian berkat kepiawaiannya yang berada di dalam bidang sastra oleh salah satu pujangga senior Tanah Air, yakni Sapardi Djoko Damono. Ia pun turut dianugerahi sebuah titel Sastrawan Muda Asia Tenggara oleh sebuah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang didapatnya pada tahun 2017.

Hingga kini, pria yang merupakan kelahiran Jakarta tahun 1990 tersebut sudah berhasil memiliki dua karya yang telah berhasil dibukukan. Buku pertamanya yang berupa sebuah kumpulan cerita yang diberi judul Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (2014). Lalu diikuti oleh buku miliknya yaitu kumpulan puisinya berjudul Sergius Mencari Bacchus (2016) yang berhasil memboyongnya menjadi juara pertama dalam sebuah Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ yang dilaksanakan pada tahun 2015 lalu.

4. Adimas Immanuel

Empat Cangkir Kenangan (2012) merupakan sebuah hasil duet dari Adimas Immanuel bersama dengan Bernard Batubara, Mohammad Irfan, dan Esha Tegar Putra. Antologi dari puisi itulah yang kemudian menjadi buku pertama dari pria yang merupakan asal Solo ini. Sejak saat itu, Adimas Immanuel aktif mengubah puisi. Puisi karya penyair penyair muda yang merupakan kelahiran tahun 1991 ini pun sudah hilir mudik di berbagai media, salah satunya yaitu adalah Kompas.

Ia pun yang kemudian kembali meluncurkan puisinya yang lain, seperti pelesir Mimpi pada 2013 dan juga Di Hadapan Rahasia 2016. Sayapnya di bidang sastra terpusat dalam hal puisi menjadi sebuah hal yang sudah semakin berkembang. Nyatanya, Adimas Immanuel pernah diundang untuk dapat menghadiri ASEAN Literary Festival dan juga Ubud Writers and Readers Festival yang dilakukan yaitu pada tahun 2015, serta Melbourne Emerging Writers pada Festival 2016.

5. Okky Puspa Madasari

Pada usia 28 tahun, karya dari Okky Puspa Madasari yang saat itu berjudul Maryam berhasil memangankian Kusala Sastra Khatulistiwa 2012. Ia pun yang berhasil dinobatkan sebagai seorang penulis termuda yang memperoleh sebuah penghargaan bergengsi tersebut.

Karya dari wanita yang merupakan kelahiran Magetan, 30 Oktober 1984 itu tak lekang oleh zaman dan sampai sekarang ini masih terus populer di kalangan para penikmat sastra. Bahkan beberapa bukunya yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris seperti Entrok (The Years of the Voiceless), Pasung Jiwa (Bound), dan juga Maryam (The Outcast).

Tulisan lain yang juga dibuat oleh Okky Puspa Madasari yang telah dibukukan di antaranya, yaitu Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, Kerumunan Terakhir, 86 dan juga Mata di Tanah Melus. Hampir setiap karyanya pasti akan mengandung kritik sosial, untuk berbagai pihak terkait cerita, yang tentunya penuh dengan makna yang mendalam.

6. Sabda Armandio

Sabda Armandio sudah mulai gemar membaca secara rutin sejak dirinya masih bersekolah TK. Untuk soal menulis, ia memulainya dengan mencoba menyusun novel saat dirinya sudah berada di bangku SMA.

Sabda Armandio yang saat itu dirinya merasa terpanggil oleh pengaruh bacaan dari beberapa tokoh yang saat itu ia kaguminya. Seperti halnya Chairil Anwar hingga juga Albert Camus yang merupakan seorang (filsuf asal Perancis) dan Arthur Schopenhauer seorang (filsuf asal Jerman).

Pada tahun 2015, akhirnya pria yang juga akrab disapa dengan nama Dio ini menerbitkan sebuah novel pertamanya yang saat itu berjudul Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Diiringi juga oleh buku yang lainnya yang diterbitkan yaitu pada tahun 2017, yakni dengan judul 24 Jam Bersama Gaspar.

Tulisannya yang tidak begitu berat namun mudah untuk dipahami, dan juga sangat menarik perhatian para pembaca. Kelugasan dalam menulis ini pula yang kemudian mengantarkan Dio dalam meraih sebuah gelar untuk pemenang unggulan dalam sebuah Sayembara Penulisan Novel DKJ 2016.

Demikian itulah beberapa seniman dan sastrawan yang berasal dari Generasi Milenial. Sekarang ini banyak para seniman dan sastrawan muda yang bermunculan dengan segudang bakat yang mereka miliki. Kita sebagai orang Indonesia, tentunya harus bangga atas banyakan karya dari sastrawan milenial tersebut yang sudah diakui oleh dunia. Semoga artikel ini juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak anak muda lainnya.

 

Categories
Seni Sastra

Mengapa Sastra Kurang Diminati Milenial?

Di masa modern ini banyak informasi menyampaikan bahwa kalangan anak milenial atau anak yang berada dalam range usia belasan tahun sekitar kelahiran tahun 2000an di era modern ini memiliki minat yang sangat kecil terhadap buku sastra. Mereka lebih memilih untuk menonton film bioskop dibandingkan jika harus membaca bukunya terdiri dari tulisan yang padat dan dengan jumlah lembar buku yang cukup tebal. Aktivitas membaca juga sering disebut membosankan, terutama melihat dari beberapa hal yang membuat banyak anak muda enggan untuk menyentuh buku sastra. Dalam pembahasan artikel di bawah ini akan menjabarkan beberapa alasan dari kurangnya peminat sastra terutama di kalangan anak muda calon penerus bangsa di era modern ini.

Alasan Sastra Dijauhi

Berbagai pengajar sastra di Indonesia lebih mementingkan hal-hal baku yang tidak mau menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia seperti tata bahasa, struktur kalimat serta berbagai macam teori-teori. Sehingga standar baku ini menjadi momok yang membosankan bagi anak muda untuk mempelajarinya lebih dalam. Beberapa karya sastra juga memiliki gaya tertentu yang dianggap terlalu kuno atau berlebihan hingga dijauhi oleh banyak kaum muda. Hal ini dapat sangat ditimbulkan akibat perbedaan budaya yang cukup besar di antara karya kuno yang terbiasa dalam menggambarkan kondisi secara lebih ekspresif, jika dibandingkan dengan gaya kehidupan masyarakat modern yang berubah menjadi lebih stabil hingga cenderung datar. Beberapa diantara milenian hanya terpaku pada kondisi yang sedang terjadi di masa kini, sehingga mereka menjadi kurang dapat menerima kondisi yang terjadi seperti pada masa lalu. Tidak mau memusingkan akan hal itu, akibatnya lebih memilih untuk mengabaikan dan bersikap acuh terhadap karya sastra bergaya kuno.

Sarana Pelarian Sastra Di Era Modern

Belajar sastra perlu disampaikan dengan kreativitas bagi tenaga pengajarnya dalam menyampaikan materi pelajaran. Sehingga topik yang dibahas tidak membuat kondisi jenuh selama sesi belajar tersebut. Terlebih lagi situasi masa modern berkembang hingga menjadi lebih menyenangkan bagi banyak orang. Masyarakat sejak masa kecilnya telah disuguhi dengan berbagai macam sarana entertainment seperti games, film bioskop, acara televisi yang sangat beragam, hingga tak menutup kemungkinan bagi para anak Indonesia untuk dapat turut serta menonton tayangan televisi yang lebih luas lagi melalui jaringan televisi luar maupun internet.

Banyak berita menyampaikan bahwa karya sastra selalu akan dihindari oleh kalangan milenial. Mungkin lebih tepat jika berita ini disertai dengan informasi penjelasnya alasan penyebab karya sastra ini untuk dijauhi atau kurang diminati di masa kini. Apakah ada metode penyampaian yang salah atau kurang sesuai dengan gaya bahasa serta cara para milenial dalam menangkap makna dari literatur tersebut, ataukah berbagai kesalahan seperti yang terjadi akibat usaha mempertahankan pola inti yang terus diulang-ulang hingga tidak berusaha menyesuaikan dengan perkembangan literatur dalam bidang lainnya.

Dalam hakikatnya setiap zaman tetap akan membutuhkan sarana hiburan dalam bentuk media yang bisa dinikmati. Namun jenis ini tentunya akan mengalami perubahan seiring berkembangnya waktu, atau faktor tren tertentu yang berdampak begitu besar hingga merubah tatanan sastra. 

Tidak Dijauhi, Tapi Zaman Telah Berubah

Hal lain yang menunjukkan suatu fakta yang mengejutkan dunia literatur juga yaitu bahwa ditengah minat yang cukup rendah akan kalangan anak muda terhadap seni sastra, ataupun sangat sedikitnya orang yang memfokuskan bidang studinya hingga ke sastra lokal, beberapa novel sebagai salah satu bentuk sastra modern berhasil menduduki peringkat terkenal dan dianggap sebagai karya terbaik. Tak salah lagi beberapa novel yang populer dari jumlahnya yang terjual hingga jutaan kopi dan bahkan turut serta diangkat menjadi film layar lebar yang juga banyak ditonton masyarakat Indonesia. Bahkan tidak hanya dalam skala nasional saja, beberapa sastra novel modern yang populer juga banyak dikenal hingga ke dunia internasional. Beberapa novel seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, novel bertemakan setting tradisional berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, novel berjudul Hamka Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Haji Abdul Malik yang juga dibuat ke dalam versi layar lebarnya lewat film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, serta Novel Tetralogi Pulau Baru yang berisikan empat macam novel yang dikarang oleh Pram dari tahun 1980 hingga 1988.

Sudah selayaknya karya sastra untuk tidak dijauhi di setiap zaman, namun itu tidak berarti bahwa jenis karya sastra harus berlangsung secara statis dan tidak mengalami perubahan. Kondisi yang terjadi diluar boleh dijadikan sebagai panutan dalam berkarya. Seperti yang sering diketahui, banyak karya sastra di luar negeri berhasil mempertahankan reputasi yang tetap tinggi diikuti banyak pembaca di aneka kategori. Tidak menjadi suatu hal yang salah jika standar yang berlaku di negara lain dalam mempertahankan pembacanya, untuk diterapkan juga di Indonesia.

Cara yang Perlu Ditempuh Untuk Sastra Kembali Bersinar

Maka dari itu, berbagai alasan telah dikemukakan akan cara untuk kembali meningkatkan minat para kaum muda untuk mempelajari aneka macam sastra dan mendalami karya literatur tersebut. Bagi penulis yang membuat jenis karya sastra ini juga dapat mempertimbangkan untuk menyesuaikan dengan budaya yang saat ini berkembang di kalangan anak muda. Supaya banyak kaum milenial boleh kembali tertarik dalam mengikuti karya sastra lokal, tidak hanya dari internasional saja. Banyak contoh yang dapat dipelajari dari karya sastra modern yang berhasil mencatatkan kesuksesannya di pasar Indonesia, bahkan beberapa diantara karya-karya tersebut juga ditulis ulang dan diterjemahkan ke bahasa asing di beberapa negara lain.

Beberapa jenis sastra terbukti populer akibat mencampurkan unsur unik di dalamnya, seperti kebudayaan dan adat yang spesifik, faktor keindahan alam hingga struktur megah tata kota pun menjadi bagian yang menarik untuk digambarkan ke dalam suatu karya sastra. Topik macam ini menjadi bagian dalam popularitas aneka karya sastra terkenal di berbagai negara luar. Akan tetapi semua itu harus diterapkan sesuai dengan porsinya, sehingga tidak berlebihan. Segala sesuatu sekalipun hal baik jika dilakukan secara berlebihan akan memberi hasil yang kurang baik. Serta perlu menggunakan tolak ukur yang mengikuti standar dalam etika kebudayaan kalangan masyarakat secara luas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadi perselisihan pendapat diantara pihak tertentu dalam meresponi karya sastra yang menggunakan berbagai unsur khusus seperti ini.

Jadi kalau kamu berminat untuk mendalami bidang literatur dan memiliki impian untuk dapat menerbitkan karya literatur buatanmu, jangan lupa untuk selalu memastikan target pasar yang dituju. Tindakan meneliti literatur lain yang sudah berhasil juga bisa dilakukan untuk mencari tahu alasan dari unggulnya keberhasilan karya tulis tersebut dalam menciptakan karya yang berkualitas. Seperti layaknya setiap hal baru bisa dikuasai setelah dipelajarinya, begitu pula dengan karya sastra. Diperlukan banyak upaya dalam mempelajari secara luas sebelum dapat menciptakan suatu karya berbobot yang dianggap indah oleh segenap masyarakat. Tapi pastikan karya yang dibuat harus orisinil ya, jangan menjiplak. Selamat berkreasi!