Categories
Seni Sastra

Fakta Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Besar

Dunia seni Tanah Air belum lama ini kembali berduka. Sastrawan senior yaitu Sapardi Djoko Damono menghembuskan (19/7) nafas terakhirnya yaitu pada Minggu (19/7) sekitar pukul 09.17 WIB. Kabar ini nantinya akan disampaikan oleh sejumlah tokoh melalui akun media sosial. Sang maestro meninggal dunia di Rumah Sakit Eka Hospital yang ada di BSD, Tangerang Selatan. Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai seorang akademisi sekaligus juga seorang sastrawan besar Indonesia.

Ia telah berhasil menghasilkan berbagai macam karya dan memperoleh banyak sekali penghargaan atas perannya di dalam bidang sastra dan aktif yaitu sejak tahun 1950 hingga sampai sekarang. Karyanya tidak hanya sajak dan juga berbagai macam puisis, melainkan juga berbagai esai dan juga berbagai cerita pendek. Sejumlah puisinya mendapatkan sebuah apresiasi luar biasa, bahkan diangkat ke dalam bentuk seni lainnya, seperti musikalisasi.

Fakta Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Besar

Sapardi lahir pada tahun 1940 yang artinya dirinya lahir pada saat Indonesia belum dalam keadaan merdeka. Maka dari itu saat masa kecil Sapardi jauh dari kata bahagia dan juga aman. Di usianya yang masih belia Sapardi kemudian harus memakan dengan bubur nasi seadanya buatan sang ibunda yaitu kali sehari. Padahal anak usia 2-3 tahun setidaknya memerlukan kalori yaitu sebesar 1000-1400 per harinya.

Namun bubur nasi yang diketahui hanya memiliki 72 kalori, artinya Sapardi tidak masuk ke dalam golongan anak sehat secara medis. Puisi berjudul Hujan Bulan Juni pada (1994) merupakan salah satu dari mahakaryanya yang begitu terkenal. Sapardi diketahui meninggal dunia karena komplikasi sebuah penyakit. Dirinya dimakamkan di Taman Pemakaman Giritama, Bogor. Berikut ini adalah beberapa fakta tentang Sapardi Djoko Damono yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.

1. Masa kecil

Sapardi Djoko Damono dirinya lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 dari pasangan Sadyoko dan juga Sapariah. Dirinya merupakan anak tertua dari dua bersaudara. Sapardi kemudian menempuh pendidikan di Solo hingga dirinya menginjak bangku SMA. Kemudian ia mengambil jurusan Sastra Inggris dan masuk ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelarnya yaitu pada 1964. Lulus dari UGM, ia melanjutkan pendidikan non gelar yaitu University of Hawaii.

2. Karir di bidang pendidikan

Selepas kuliah, Sapardi juga pernah menjadi seorang dosen tetap Ketua Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Malang Cabang Madiun pada tahun 1964-1968. Tahun 1973, Sapardi kemudian pindah dari Semarang ke Jakarta dan kemudian menjadi seorang direktur pelaksana dalam Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison.

Sejak tahun 1974, ia telah berhasil mengajar di Fakultas Sastra-Budaya Universitas Diponegoro. Sapardi juga pernah menjabat sebagai seorang dekan FIB UI periode 1995-1999 dan menjadi seorang guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia Jurusan Sastra Indonesia. Dirinya juga pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra di Universitas Indonesia tahun 1979-1982, lalu kemudian diangkat sebagai Pembantu Dekan I pada 1982-1996 dan pada akhirnya menjabat sebagai Dekan pada tahun 1996-1999 di fakultas dan universitas yang sama. Tahun 2005 Sapardi kemudian memasuki masa pensiun sebagai guru besar di Fakultas Ilmu Budaya.

3. Aktif di lembaga

Selain dirinya mengajar sebagai seorang dosen, Sapardi Djoko Damono juga sangat aktif di berbagai lembaga seni sastra. Ia juga pernah menjadi seorang Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia dalam redaksi majalah sastra Horison pada tahun (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin tahun (1975), anggota Dewan Kesenian, dan juga anggota Badan Pertimbangan Perbukuan di Balai Pustaka Jakarta.

Tahun 1986, Sapardi kemudian mendirikan sebuah organisasi profesi kesastraan di Indonesia dengan nama Himpunan Sarjana-Kesusastraan di Indonesia atau Hiski. Selama tiga periode, Sapardi juga berhasil terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat. Sapardi juga tercatat sebagai salah satu anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan juga merupakan anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV).

Tidak hanya aktif di dunia sastra Indonesia saja, Sapardi Djoko Damono juga sering menghadiri berbagai macam pertemuan internasional, seperti Translation Workshop dan juga Poetry International di Rotterdam, Belanda dan Seminar on Literature and Social Exchange in Asia yang diadakan di Australia National University Canberra.

4. Karya sastra

Di Dalam dunia sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono namanya mempunyai sebuah peran yang sangat penting. Sapardi masuk ke dalam kelompok pengarang angkatan 1870 an. Puisi Sapardi dikagumi karena banyak kesamaan dengan yang ada di dalam persajakan Barat.

Beberapa karyanya yang juga telah dibuat antara lain, Duka-Mu Abadi 1969, Perahu Kertas (1983),Sihir Hujan (1984), Mata Pisau (1974), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998). Serta Mata Jendela (2000), Ayat-ayat Api (2000), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003), kumpulan cerpen dengan judul Pengarang Telah Mati (2001), dan kumpulan sajak Kolam tahun (2009).

5. Penghargaan karya

Atas berbagai perannya dan karya-karyanya di dunia sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono pernah memperoleh sederet penghargaan dan juga hadiah dalam bidang sastra. Diantaranya seperti puisi berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak tahun (1963), Dewan Kesenian Jakarta atas bukunya yang berjudul Perahu Kertas (1984), Puisi-Puisi Putera II untuk bukunya yaitu Sihir Hujan dari Malaysia (1983), Mendapat Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990), SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand (1986 dan juga masih banyak lagi.

6. Mengembangkan Segala Kelebihan

Sapardi balita juga mulai tinggal bersama kakeknya yang merupakan abdi dalem dari Keraton Kasunan. Kakaknya juga pandai membuat dan memainkan berbagai macam wayang kulit. Namun Saat usia Sapardi 3 tahun, ayah dan ibunya menyewa sebuah rumah di kampung Dhawung dan mengikutsertakan Sapardi untuk kemudian pindah juga. Sapardi menempuh pendidikan awalnya di Sekolah Rakyat Kasatrian yang berisikan anak laki-laki.

Pendidikan seni yang ia dapat adalah menabuh gamelan dan juga menari jawa. Bakat seni yang tertanam dari sang kakek kemudian mengalir ke raga Sapardi yang gemar dengan dunia seni budaya. Setelah itu sapardi kemudian meneruskan pendidikannya di SMP Negeri 2 Surakarta, disana mulailah Sapardi menemukan jati dirinya bahwa sastra adalah dunia yang nantinya harus dituju.

Pada masa itu juga, Sapardi aktif mengirimkan ceritanya ke majalah anak berbahasa jawa dan pada saat itu tulisannya sempat ditolak semata-mata karena tulisannya di anggap tidak masuk akal, padahal Sapardi saat itu menulis sebuah kisah nonfiksi. Dari situlah sapardi kemudian mulai berpikir untuk menulis sebuah hal berbau fiksi.

Pada tahun 1955 Sapardi lulus dari bangku SMP dan kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Surakarta, Sapardi aktif menulis puisi pada saat dirinya duduk di bangku kelas 2 SMA, dan puisinya dipublikasikan di majalah-majalah budaya sastra dan dari situlah awal dirinya menjadi seorang sastrawan hebat.

Demikian itulah beberapa fakta tentang Sapardi Djoko Damono seorang sastrawan besar Indonesia. Walaupun kini Sapardi Djoko Damono telah tiada, namun karya-karya indahnya masih sering dilantunkan oleh banyak orang. Semoga kisah dari Sapardi Djoko Damono ini dapat menginspirasi banyak anak muda Indonesia yang tertarik di bidang sastra.