Categories
Seni Sastra

Mengapa Sastra Kurang Diminati Milenial?

Di masa modern ini banyak informasi menyampaikan bahwa kalangan anak milenial atau anak yang berada dalam range usia belasan tahun sekitar kelahiran tahun 2000an di era modern ini memiliki minat yang sangat kecil terhadap buku sastra. Mereka lebih memilih untuk menonton film bioskop dibandingkan jika harus membaca bukunya terdiri dari tulisan yang padat dan dengan jumlah lembar buku yang cukup tebal. Aktivitas membaca juga sering disebut membosankan, terutama melihat dari beberapa hal yang membuat banyak anak muda enggan untuk menyentuh buku sastra. Dalam pembahasan artikel di bawah ini akan menjabarkan beberapa alasan dari kurangnya peminat sastra terutama di kalangan anak muda calon penerus bangsa di era modern ini.

Alasan Sastra Dijauhi

Berbagai pengajar sastra di Indonesia lebih mementingkan hal-hal baku yang tidak mau menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia seperti tata bahasa, struktur kalimat serta berbagai macam teori-teori. Sehingga standar baku ini menjadi momok yang membosankan bagi anak muda untuk mempelajarinya lebih dalam. Beberapa karya sastra juga memiliki gaya tertentu yang dianggap terlalu kuno atau berlebihan hingga dijauhi oleh banyak kaum muda. Hal ini dapat sangat ditimbulkan akibat perbedaan budaya yang cukup besar di antara karya kuno yang terbiasa dalam menggambarkan kondisi secara lebih ekspresif, jika dibandingkan dengan gaya kehidupan masyarakat modern yang berubah menjadi lebih stabil hingga cenderung datar. Beberapa diantara milenian hanya terpaku pada kondisi yang sedang terjadi di masa kini, sehingga mereka menjadi kurang dapat menerima kondisi yang terjadi seperti pada masa lalu. Tidak mau memusingkan akan hal itu, akibatnya lebih memilih untuk mengabaikan dan bersikap acuh terhadap karya sastra bergaya kuno.

Sarana Pelarian Sastra Di Era Modern

Belajar sastra perlu disampaikan dengan kreativitas bagi tenaga pengajarnya dalam menyampaikan materi pelajaran. Sehingga topik yang dibahas tidak membuat kondisi jenuh selama sesi belajar tersebut. Terlebih lagi situasi masa modern berkembang hingga menjadi lebih menyenangkan bagi banyak orang. Masyarakat sejak masa kecilnya telah disuguhi dengan berbagai macam sarana entertainment seperti games, film bioskop, acara televisi yang sangat beragam, hingga tak menutup kemungkinan bagi para anak Indonesia untuk dapat turut serta menonton tayangan televisi yang lebih luas lagi melalui jaringan televisi luar maupun internet.

Banyak berita menyampaikan bahwa karya sastra selalu akan dihindari oleh kalangan milenial. Mungkin lebih tepat jika berita ini disertai dengan informasi penjelasnya alasan penyebab karya sastra ini untuk dijauhi atau kurang diminati di masa kini. Apakah ada metode penyampaian yang salah atau kurang sesuai dengan gaya bahasa serta cara para milenial dalam menangkap makna dari literatur tersebut, ataukah berbagai kesalahan seperti yang terjadi akibat usaha mempertahankan pola inti yang terus diulang-ulang hingga tidak berusaha menyesuaikan dengan perkembangan literatur dalam bidang lainnya.

Dalam hakikatnya setiap zaman tetap akan membutuhkan sarana hiburan dalam bentuk media yang bisa dinikmati. Namun jenis ini tentunya akan mengalami perubahan seiring berkembangnya waktu, atau faktor tren tertentu yang berdampak begitu besar hingga merubah tatanan sastra. 

Tidak Dijauhi, Tapi Zaman Telah Berubah

Hal lain yang menunjukkan suatu fakta yang mengejutkan dunia literatur juga yaitu bahwa ditengah minat yang cukup rendah akan kalangan anak muda terhadap seni sastra, ataupun sangat sedikitnya orang yang memfokuskan bidang studinya hingga ke sastra lokal, beberapa novel sebagai salah satu bentuk sastra modern berhasil menduduki peringkat terkenal dan dianggap sebagai karya terbaik. Tak salah lagi beberapa novel yang populer dari jumlahnya yang terjual hingga jutaan kopi dan bahkan turut serta diangkat menjadi film layar lebar yang juga banyak ditonton masyarakat Indonesia. Bahkan tidak hanya dalam skala nasional saja, beberapa sastra novel modern yang populer juga banyak dikenal hingga ke dunia internasional. Beberapa novel seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, novel bertemakan setting tradisional berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, novel berjudul Hamka Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Haji Abdul Malik yang juga dibuat ke dalam versi layar lebarnya lewat film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, serta Novel Tetralogi Pulau Baru yang berisikan empat macam novel yang dikarang oleh Pram dari tahun 1980 hingga 1988.

Sudah selayaknya karya sastra untuk tidak dijauhi di setiap zaman, namun itu tidak berarti bahwa jenis karya sastra harus berlangsung secara statis dan tidak mengalami perubahan. Kondisi yang terjadi diluar boleh dijadikan sebagai panutan dalam berkarya. Seperti yang sering diketahui, banyak karya sastra di luar negeri berhasil mempertahankan reputasi yang tetap tinggi diikuti banyak pembaca di aneka kategori. Tidak menjadi suatu hal yang salah jika standar yang berlaku di negara lain dalam mempertahankan pembacanya, untuk diterapkan juga di Indonesia.

Cara yang Perlu Ditempuh Untuk Sastra Kembali Bersinar

Maka dari itu, berbagai alasan telah dikemukakan akan cara untuk kembali meningkatkan minat para kaum muda untuk mempelajari aneka macam sastra dan mendalami karya literatur tersebut. Bagi penulis yang membuat jenis karya sastra ini juga dapat mempertimbangkan untuk menyesuaikan dengan budaya yang saat ini berkembang di kalangan anak muda. Supaya banyak kaum milenial boleh kembali tertarik dalam mengikuti karya sastra lokal, tidak hanya dari internasional saja. Banyak contoh yang dapat dipelajari dari karya sastra modern yang berhasil mencatatkan kesuksesannya di pasar Indonesia, bahkan beberapa diantara karya-karya tersebut juga ditulis ulang dan diterjemahkan ke bahasa asing di beberapa negara lain.

Beberapa jenis sastra terbukti populer akibat mencampurkan unsur unik di dalamnya, seperti kebudayaan dan adat yang spesifik, faktor keindahan alam hingga struktur megah tata kota pun menjadi bagian yang menarik untuk digambarkan ke dalam suatu karya sastra. Topik macam ini menjadi bagian dalam popularitas aneka karya sastra terkenal di berbagai negara luar. Akan tetapi semua itu harus diterapkan sesuai dengan porsinya, sehingga tidak berlebihan. Segala sesuatu sekalipun hal baik jika dilakukan secara berlebihan akan memberi hasil yang kurang baik. Serta perlu menggunakan tolak ukur yang mengikuti standar dalam etika kebudayaan kalangan masyarakat secara luas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadi perselisihan pendapat diantara pihak tertentu dalam meresponi karya sastra yang menggunakan berbagai unsur khusus seperti ini.

Jadi kalau kamu berminat untuk mendalami bidang literatur dan memiliki impian untuk dapat menerbitkan karya literatur buatanmu, jangan lupa untuk selalu memastikan target pasar yang dituju. Tindakan meneliti literatur lain yang sudah berhasil juga bisa dilakukan untuk mencari tahu alasan dari unggulnya keberhasilan karya tulis tersebut dalam menciptakan karya yang berkualitas. Seperti layaknya setiap hal baru bisa dikuasai setelah dipelajarinya, begitu pula dengan karya sastra. Diperlukan banyak upaya dalam mempelajari secara luas sebelum dapat menciptakan suatu karya berbobot yang dianggap indah oleh segenap masyarakat. Tapi pastikan karya yang dibuat harus orisinil ya, jangan menjiplak. Selamat berkreasi!